Baru pulang dari SABS (Sekolah Alam Bengawan Solo) di Sukoharjo. Cerita ini yang perlu langsung dituangkan disebuah tulisan. Mumpung masih hangat-hangatnya😊.
1,5 jam dari Salatiga. Sekolahnya beneran ada di bantaran sungai Bengawan Solo. Tiba di lokasi, melihat bangunan2x. Sederhana tanpa kesan mewah. Tepatnya dari kayu yang ditempel2x tok menjadi bangunan. Tapi hawanya langsung merasuk dihati, membuat saat itu juga reflek tersenyum dan ada adrenalin yang mencuat gembira disitu. Tempat ini luar biasa indahnya buatku. Banyak inspirasi berserakan disetiap mata memandang. Bisa terbayang kan, baru tiba sudah terpukau😍.
Si empunya sekolah adalah seorang tukang meubel. Tidak punya latar belakang pendidikan guru. Namun karena cara pandang yang keren menurutku, dan ingin perubahan di pendidikan anak bangsa, berani lakukan sesuatu menurut cara beliau👍😊
Saat ini ada 67 anak. Dari TK, SD dan 5 anak sekolah lanjutan.
Tahun ini menjadi tahun pertama untuk sekolah lanjutan non formal (PKBM). Dan juga tahun pertama sebagai sekolah formal untuk tingkat sekolah dasar. Namun dalam keseharian, mereka punya cara mendiri dalam kegiatan belajar mengajar.
Tatap muka, ngobrol santai dua jam bersama Pak Yudi si tukang kayu (alias founder SABS) & Pak Jefry si tukang kebun (alias Kepala Sekolah), mereka menyebut dirinya :). Banyak kalimat yang menggetarkan keluar dari Beliau.
"Kasih sayang itu dimulai dari komunikasi. Komunikasi itu butuh media. Disini medianya adalah mengerjakan peer bersama antara orangtua dan anak"
Jadi peran aktif orangtua sangaaat dibutuhkan dalam pendidikan anak.
"SABS bukan boarding school. Karena saya percaya, usia mereka saat ini butuh role model yang berdekatan dengan mereka. Dan itu adalah orangtua mereka sendiri. Sebodoh2xnya seorang ibu mendidik anaknya. Karena adanya cinta seorang ibu, tetap akan jauh lebih baik dari pada tidak bersama ibunya"
"Yang bisa menguatkan sistem pendidikan kita adalah masyarakat. Masyarakat terkecil adalah keluarga. Berikutnya lingkungan sekitar. It take a village to raise a child. Bagaimana kita menciptakan well-being dalam keluarga. Karena paling penting adalah mengajarkan anak tentang kehidupan. Untuk itu nilai2x kemanusiaan perlu dikedepankan"
Analoginya:
Ada anak bodoh, tidak bisa cari uang. Tapi ia jujur. Jelek2xnya jadi tukang parkir. Ia bekerja yang penting dapet uang halal.
-VS-
Ada anak pinter, berpendidikan tinggi. Namun karakter dan mentalnya tidak baik. Calon-calon ini yang justru mengerikan saat turun dimasyarakat karena bisa merusak bangsa.
Di SABS sendiri, dasar kurikulum yang digunakan mengacu pada 5 hal:
1. Akhlak
2. Knowledge
3. Leadership
4. Entrepreneurship
5. Wawasan Lingkungan
Metode yang mereka kerjakan bersama anak-anak selama berkegiatan harian, diantaranya mencakup:
1. Bagaimana pembelajaran bisa membuat anak sehat fisik dan mental (misal: melatih kejujuran)
2. Melatih daya juang
3. Melatih ketekunan
4. Membangun daya nalar (research
5. Membiasakan hidup sederhana.
Nah, inilah beberapa sharing dari Pak Yudi yang jadi catatan berharga buatku.
Belum lagi bicara soal anak-anak SABS. Gak perlu cerita panjang lebar. Cukup mendengarkan pendapat mereka tentang teman baru mereka. Ngobrol di mobil dalam perjalanan pulang dengan Aza, Izzan, dan 2 temannya Derby & Bimo. Bertanya kesan mereka tentang kunjungan silahturahmi tadi.
"Temen2xnya baik2x"
"Ramah2x"
"Temen2xnya ON *istilah Aza. (ternyata maksudnya mereka pro aktif, semangat ada temen baru, gak diem aja, ceria, sopan, melayani)😍
"Tempatnya asik, banyak mainan, banyak rumah pohon"
"Banyak ayunan"
"Ada Yudhis yang seumuran aku"
"Ada Nua"
" Seruuu main bola sama lumpur"
😁😁😅
Naah, bisa terbayang kaan bagaimana rupanya😍. Ini baru dari cerita versi anak-anak. Belum lagi mendengar testimoni dan pengalaman dari para orangtua saat ngobrol sambil makan siang dan menemani anak-anak berenang di pemandian Cokro tadi.
Selesai sesi sharing, aku mulai berkeliling. Menikmati setiap sudut bangunan kayu yang ada. Begitu bercerita. Sudut favoritku adalah Pintu Hobbit (Pak Dodik Maryanto menyebutnya)😊. Dengan tempelan warna-warni cat dari tangan mungil warga SABS, beserta dengan tulisan nama mereka. Ditambah paduan dua kursi bambu, dan daun merambat yang bergantungan di sepanjang tembok kayu itu. Cantiiiik sekali!😍
Ada tempat pilah sampah dari gerobak kayu. Sederhana namun artistik.
Beberapa rumah pohon, ayunan cantik dimana-mana yang buat anak-anak betah bermakn disana. Buku-buku bacaaan yag tergantung di beberapa lokasi, juga di perpustakaan. Mereka ingin membuat setiap warga SABS tertarik untuk membaca. Daaan masih banyak sudut tempat lain yang buat kami terkagum😍☺️
Perjalanan belajar yang menyenangkan hati!❤️
Jadi, hayuk.. Pilihkan tempat belajar yang bisa menjadi mitra pendidikan untuk keluarga. Mereka bertebaran dimana2x. Bagaikan magnet yang akan mendekatkan kita buat para orangtua yang terbuka untuk belajar dan serius menjalankan amanahNya💪😍
#jelajahlangitbiru #aza11yo #izzan8yo #sekolahalambengawansolo #SABS #CBEKampungJuara #communitybasededucation #petualangankami #belajardimanasaja #belajarsambiljalanjalan #travelschooling #jelajahklaten

